Bencana Sistem Persekolahan Negeri (Public School) bagi Dunia

Akper Yaspen Jakarta Bermuhasabah
Januari 27, 2017
Akper Terbaik di Jakarta Menyelenggarakan Seminar dan Workshop
Januari 18, 2018

Bencana Sistem Persekolahan Negeri (Public School) bagi Dunia

Setiap hari kita banyak dikejutkan dengan kenyataan bahwa orang yang selama ini kita kenal pintar dan mampu serta dielukan sebagai tokoh sederhana yang mumpuni dan diharapkan membawa perubahan, tiba-tiba menjadi koruptor kakap yang menghancurkan apa-apa yang dinasehatinya sendiri. Lalu kita mengenal orang yang selama ini dianggap alim, ahli ibadah, dielukan sebagai tokoh agama tiba-tiba menjadi manipulator dan pendusta dengan perilaku lebih rendah dari orang yang buta agama. Bahkan belakangan kita temui seorang jendral yang alim, bergelar haji, bersimpati pada gerakan dakwah tiba-tiba melakukan kudeta dan secara sadis melakukan pembantaian keji.

Semakin hari semakin banyak kita temukan fenomena orang di kiri kanan kita, bahkan mungkin diri kita sendiri, telah bermetamorfosa menjadi monster dalam arus kompetisi ini. Tidak nampak di permukaan, namun sesungguhnya berpotensi tinggi untuk kapan saja berubah menjadi makhluk mengerikan berdarah dingin.

Diskusi dengan para pendidik, melahirkan pertanyaan, mengapa banyak orang pintar-bejat-berani? Mengapa jarang ditemui orang pintar-jujur-berani? Mengapa sebagian besar orang pintar-jujur-tidak berani-tidak peduli? Sesungguhnya apa yang sedang terjadi? Perubahan perilaku warga bumi itu tidak lepas dari sistem persekolahan yang dipraktekan secara massive dan seragam di muka bumi.

Mungkin banyak di antara kita yang meremehkan peran pendidikan dalam merubah wajah dunia, apakah menjadi semakin kelam atau dunia menjadi semakin bersinar, apakah dunia menjadi semakin damai atau dunia menjadi semakin kejam. Tulisan ini akan memaparkan sebuah sistem pendidikan (persekolahan) yang dianut hampir seluruh sistem persekolahan negeri di dunia yang dikelola pemerintah sejak era industri dimulai sampai hari ini, yang menurut banyak peneliti telah merubah wajah dunia menjadi kejam, bengis dan haus darah.

Mari kita lihat. Pesan seorang bijak “If you would understand anything, observe its beginning and its development”, jika anda ingin memahami sesuatu, maka temukan permulaannya dan perkembangannya”.

Sistem Pendidikan Dunia Meniru Sistem Pendidikan Amerika

Adalah Horace Mann, didapuk sebagai bapak dari sistem sekolah publik (sekolah negeri) Amerika, telah mempelajari berbagai macam model pendidikan sebelum menerapkan sistem Prusia yang dirancang oleh Fredrick Agung. Fredrick Agung adalah seorang raja Prusia, sebuah negara yang telah hilang hari ini dari muka bumi, meliputi wilayah Jerman dan sekitarnya.

Raja Frederick menciptakan sebuah sistem yang direkayasa untuk mengajarkan ketaatan dan memperkuat kekuasaannya. Berfokus pada arah berikut: keterampilan dasar dan kesesuaian (conformity), ia berusaha mengindoktrinasi bangsa sejak usia dini. Mengisolasi siswa dalam barisan-barisan dan guru di kelas masing-masing yang dibentuk secara sengaja dalam hierarki yang kaku yang mendorong ketakutan dan kesepian.

Tahun 1843, Mann memilih model Prusia untuk diterapkan di seluruh Amerika, dengan pembelajaran depersonalisasi (mengabaikan personalisasi) serta hierarki kekuasaan yang ketat, karena itu adalah cara termurah dan termudah untuk mengajar keaksaraan (literacy) dalam skala besar.

Sistem ini diabadikan di awal abad kedua puluh oleh ahli teori efisiensi sosial yang mengupayakan industrialisasi proses pendidikan. Dipimpin oleh pendidik seperti Ellwood P. Cubberley, mereka menggunakan pendidikan sebagai alat untuk rekayasa sosial: “Sekolah kami, dalam makna, pabrik di mana produk mentah (anak) harus dibentuk dan dicetak ke dalam produk untuk memenuhi berbagai tuntutan kehidupan.” (Cubberley, 1917)

Sistem persekolahan ini membangun di atas depersonalisasi secara seragam dan hierarki yang kaku dari sistem Prusia, mereka mengkonstruksikan model sekolah (era) industri yang dirancang untuk menghasilkan jutaan pekerja untuk pabrik Amerika.

Sistem ini meyakini bahwa sebagian besar siswa Amerika ditakdirkan untuk sebuah hidup yang kasar/rendahan serta buruh industri, maka teori ini menciptakan sebuah sistem pendidikan multi-track yang dimaksudkan untuk memilah siswa sejak dari usia dini.

Sedangkan yang terbaik dan tercerdas secara hati-hati dipersiapkan untuk posisi kepemimpinan, mayoritas diturunkan ke pendidikan berupa monoton belajar menghafal dan penyelesaian tugas.

Konsekuensinya, sistem pendidikan (persekolahan) di Amerika dan di dunia hari ini masih terkunci ke dalam kerangka Prusia-industri berupa ketakutan, isolasi, dan monoton. Untuk para siswa dan guru, prosedur lebih ditekankan dari inovasi, keseragaman lebih diutamakan dari ekspresi individu, dan kontrol lebih penting dari pemberdayaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa mayoritas ruang kelas di sekolah Amerika hanya berubah sedikit dalam lebih dari seratus tahun.

Model Persekolahan seperti inilah yang kemudian ditiru dan diterapkan oleh hampir seluruh persekolahan di dunia. Di Indonesia, model persekolahan ini masuk bersamaan dengan politik etis kolonial Belanda tahun 1900.

Mari Tengok Sistem Pendidikan Prusia

Sejak kekalahan Prusia dari Perancis, syarat-syarat perdamaian yang ditetapkan Napoleon tak hanya melenyapkan sejumlah besar wilayah Prusia, tetapi juga memberatinya dengan hutang yang besar. Kesempatan untuk membangun kembali negara itu jelas-jelas tertutup. Namun, pendidikan relatif bisa ekstensif tersedia, berupa Gymnasium dan universitas.

Penyatuan Jerman di bawah hegemoni Prusia menjadi tujuan politik Bismarck sejak negarawan itu diangkat sebagai perdana menteri Prusia oleh Raja Wilhelm I pada tahun 1862. Seusai perang melawan Austria pada tahun 1866 dan dibubarkannya Serikat Jerman, didirikan Serikat Jerman Utara yang diikuti oleh 17 negara kecil Jerman di bawah pimpinan Prusia. Menyusul kemenangan dalam perang melawan Perancis 1870-71 didirikan Kerajaan Jerman Kedua, dan Wilhelm I diproklamasikan sebagai kaisar di Versailles. Bismarck tetap menjabat sebagai perdana menteri, tetapi sekaligus menjadi kanselir Kerajaan Jerman.

Sebagai lembaga baru yang dibentuk dewan perwakilan rakyat, Reichstag, yang dipilih langsung, tetapi hak legislatifnya masih terbatas. Secara gigih Bismarck menentang liberalisme kiri, gerakan politik umat Katolik dan partai sosialis demokrat. Di lain pihak diciptakan undang-undang jaminan sosial yang paling progresif di Eropa atas usahanya selama tahun 1880-an. Konflik berat dengan Kaisar Wilhelm II yang naik takhta pada tahun 1888 memuncak dalam pemecatan sang ”Kanselir Besi“ pada tahun 1890.

Sebuah perkembangan lain terjadi di Prusia (cikal bakal Jerman), yang akan kita rasakan sampai saat ini. Dalam kurun 1713-1786 beberapa legislasi dikeluarkan yang mewajibkan anak-anak untuk sekolah, nasionalisasi sekolah, melarang pendidikan privat (di rumah), sertifikasi pengajar, konsep jam pelajaran (±45 menit-1 jam), mata pelajaran, uang sekolah, subsidi pendidikan, dan ujian.

Pendidikan kembali lagi, seperti halnya jaman Romawi Kuno, menjadi hamba pemerintah. Pendidikan ditujukan untuk menghasilkan kaum profesional, untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga profesional di semua sektor. Jerman pun berkembang menjadi sebuah bangsa yang terkenal profesionalisme sampai saat ini. Ilmu pengetahuan direduksi menjadi sebuah mata pelajaran, mengesampingkan pendekatan holistik yang menjadi ciri pendidikan klasik.

Ciri-ciri sekolah model Prusia inilah yang menjadi ciri pendidikan modern hingga saat ini, yang mengusung profesionalisme, spesialisasi dan pragmatisme.

Kritik atas Sekolah Model Prusia

Model pendidikan ini bukannya berjalan tanpa kritik. Ralph Waldo Emerson, seorang pujangga dan penulis esai dari Amerika, mengkritik kebijakan pemerintahnya yang mengirim sekitar 9000 orang untuk belajar di Jerman, yang ditujukan untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli yang akan menjadi penggerak pembangunan di Amerika. Ia berkata bahwa “seorang manusia haruslah menjadi manusia yang baik terlebih dahulu sebelum ia menjadi petani, tukang dan insinyur yang baik.”

Meskipun banyak yang telah ditulis tentang pembentukan sekolah umum di Amerika Serikat (Kliebard, 2004; Pinar dkk, 2008;. Ravitch, 2001), sebagian besar sejarah pendidikan publik mengabaikan bahwa asal sebenarnya dari sekolah yang disponsori negara pertama dibuat di Prusia pada tahun 1716, yaitu sebuah pendidikan wajib yang disponsori negara yang direkayasa oleh Raja Fredrick William I sebagai sarana awal memperkuat negara Prusia menjadi satu kesatuan yang seragam (Boli, Ramirez, Mayer, 1985).

Model Sekolah ini selanjutnya dikembangkan oleh putranya Raja Fredrick Agung, Volsschulen, menjadi sekolah publik, yang secara eksplisit dirancang untuk tujuan konsolidasi kekuasaan kekaisaran. Seperti yang diungkapkan oleh Thomas Alexander (1918) dalam studi sejarah tentang sistem Pendidikan Prusia:

“Warga negara Prusia tidak bisa bebas untuk melakukan dan bertindak untuk dirinya sendiri, bahwa bangsa Prusia adalah dalam ukuran besar diperbudak melalui media sekolahnya, bahwa belajar itu bukan membuatnya menjadi ahli untuk menempa sendiri rantai yang ia kenakan dalam perbudakan; bahwa skema seluruh pendidikan sekolah dasar Prusia dibentuk dengan tujuan cepat saji yaitu membuat sembilan puluh sembilan dari setiap seratus warga tunduk. Sekolah Dasar dari Prussia telah dibentuk untuk membuat spiritual dan intelektual sebagai budak dari kelas bawah” (dalam pengantar).

Ini adalah model yang kemudian ditransplantasikan oleh Horace Mann, Bapak dari sekolah publik (sekolah negeri) Amerika, ke seluruh Amerika Serikat tahun 1843 (Cubberley, 1920). Meskipun ia adalah seorang pelobi kuat untuk perancangan sekolah Prusia, bahkan Mann mengakui bahwa sistem Prusia memiliki kritik kelemahan. Sebagaimana ia menulis pada 1843:

“Banyak pernyataan bersama dikeluarkan dari pers Inggris. . . sangat mencela seluruh rencana pendidikan Prusia, sebagai yang tidak hanya dirancang untuk memproduksi, tetapi dengan benar-benar menghasilkan, semangat sewenang wenang buta untuk mendukung kekuasaan, dalam hal-hal spiritual maupun temporal – layaknya hukuman, sistem pendidikan ditujukan untuk memperbudak, dan tidak memerdekakan pikiran manusia.”

Namun ia masih menyatakan bahwa: “Membiarkan semua tuduhan terhadap sistem Prusia agar menjadi kenyataan. . . kejahatan yang dituduhkan itu akan mudah dan alami untuk dipisahkan dari yang baik. . . dan jika kekuatan moral atas pemahaman dan kasih sayang dari orang bisa beralih menjadi kejahatan, mungkin juga tidak akan digunakan untuk kebaikan yang paling tinggi?

Namun, sementara Mann mungkin telah dengan cepat mengabaikan keprihatinan kritikus, dengan mengatakan bahwa ketakutan mereka tidak berarti dan tidak berdasar. Ditempa dalam wadah dari pemikiran militeristik Prusia, sistem pendidikan Prusia didasarkan pada apa yang disebut “tekanan kuat dan disiplin yang keras” di mana birokrasi Prusia bekerja (Dorn 1931). “Sebagian dari Strategi nasional Raja Fredrick itu, bahwa kementerian pendidikan dioperasikan di bawah aturan yang sama seperti usulan mutlak pemerintah Raja Fredrick”

Akibat Sistem Persekolahan Prusia

1. Krisis Sumber Daya Manusia

Memahami bahwa kontrol total terletak pada monopoli “pilihan” bidang dan pengetahuan, Raja Fredrick memastikan bahwa ia adalah satu-satunya pengambil keputusan yang benar. Hal ini apa yang menyebabkan Dorn (1931) menjelaskan sebagai:

Gencarnya intervensi pribadi raja Prusia di semua cabang administrasi. . . Mereka terikat oleh instruksi tertulis rumit yang mengikat seluruh kegiatan mereka dan memberikan aturan bervariasi untuk setiap tindakan administrasi . . . Selanjutnya adalah sebuah organisasi di mana disiplin militer, subordinasi mutlak, dan sentralisasi yang lengkap.

Semangat subordinasi mutlak dan kontrol pusat juga dibangun ke Model pendidikan Prusia. Khawatir bahwa “terlalu luas wacana dalam pengajaran akan membangkitkan gairah bakat dan kemampuan dalam diri mereka. Raja Fredrick secara sistematis mendirikan model sekolah yang direkayasa untuk memastikan bahwa “semangat kemampuan internal (karakter, bakat & passion)” itu padam secara permanen.

Anak-anak depersonalisasi dan terisolasi dari satu sama lain pada awal usia. Duduk di baris, mereka menghadap ke depan dengan mudah dibungkam, dikontrol, dan dipaksa untuk terlibat dalam tugas-tugas hafalan dengan tujuan semata-mata adalah untuk menanamkan ketaatan. Subyek terfragmentasi melalui pengajaran bahwa konteks dan perspektif mereka dirampas , pemikiran mereka secara sengaja dan sistematis terhambat. Ini praktek yang membentuk kurikulum sekolah negri di Prusia selama lebih dari satu abad.

Sampai akhir 1919, sekolah umum Jerman digambarkan oleh filsuf Jerman Kurt Eisner sebagai “akademi pengeboran yang tekun sehingga dengan itu anak-anak bisa mengalami cacat intelektual seumur hidup ”

Untuk staf Raja Fredrick yang baru, maka dibuat Sekolah Prusia, semacam guru “aneh” dibutuhkan. Tidak seperti berabad-abad guru sebelum mereka, guru-guru ini adalah untuk beroperasi di bawah ketat aturan birokrasi kekaisaran. Sekarang roda penggerak dalam mesin yang dioperasikan oleh sebuah negara besar,

Peran guru secara drastis didefinisikan ulang. Tidak lagi sebagai seorang mentor inspirasional atau bijak bestari, namun guru Prusia adalah yang pertama dari generasi baru edukrat (birokrat pendidikan). Sama seperti siswa mereka, guru Prusia menjadi perangkat mekanis kecil (widget), terstandar dan bisa diganti. Dilucuti dari kemampuan untuk membuat keputusan, guru dioperasikan di bawah aturan yang sama yang oleh Raja Fredrick ditetapkan untuk semua pejabat nya: “Anda tidak memiliki hak inisiatif apa pun ”

Bagian dari hirarki yang rumit terhadap guru, kepala sekolah, pengawas, dan menteri lainnya, pendidik yang terus dikelola secara mikro, dievaluasi, diamati, dan dinilai. Ini menciptakan suasana ketakutan.

Para siswa takut kepada guru, lalu guru pada gilirannya takut kepala sekolah, lalu sekolah pada gilirannya takut pengawas, lalu pengawas pada gilirannya takut atasannya, sampai Raja. Ketakutan ini adalah dengan rancangan (desain), dan itu sengaja tertanam dalam sistem.

Ini merupakan bagian integral dari strategi manajemen, yang menggunakan kontrol berbasis rasa takut berasal dari filsafat Raja Fredrick tentang “ketidakpercayaan”. Jelas diartikulasikan oleh Raja Fredrick bahwa dirinya sebagai “di antara seratus pejabat, Anda selalu bisa mempertahankan sembilan puluh sembilan dengan ikhlash, namun jika ada seorang pejabat jujur itu sangat susah, Perspektif ini terletak di jantung dari sistem pendidikan Prusia.

2. Melahirkan Tirani dan Perbudakan Manusia

Ini adalah warisan dari model Prusia. Dirancang untuk memastikan kontrol, secara sistemik, menghilangkan pemberdayaan siswa dan orang dewasa sama dengan efisiensi kejam. Pem “bayi” an dan ketakutan penuh, warganya dibiarkan lemah untuk dikondisikan mematuhi mereka dalam perintah.

Bersama sistem ini, Horace Mann dipindahkan ke pantai AS pada tahun 1843. Sementara Mann memahami bahwa model Prusia adalah alam kegelapan, ia tergoda oleh kekuasaan, rasa arogan seandainya ia bisa menggunakannya untuk “untuk kebaikan tertinggi”.

Daya tarik untuk mampu secara sistematis mengendalikan pola pikir masyarakat, dan sikap- dengan apa yang disebut Mann sebagai “kekuatan moral atas pemahaman dan pengaruh dari orang-orang”- adalah terlalu kuat. Seperti filsuf raja Platonian masa lampau, Mann dan rekan-rekannya percaya bahwa mereka harus menjadi orang-orang yang dapat menentukan nilai-nilai dan ide-ide terbaik diabadikan ke masa depan.

Setelah semua, pasti mereka, sebagai elite Protestan berpendidikan, tahu lebih baik daripada imigran, apa yang harus diajarkan kepada generasi mendatang. Rasionalisasi Mann membawa desain Prusia ke Amerika Serikat. Dimulai di Massachusetts, di mana Mann adalah Sekretaris Pendidikan, itu akhirnya menyebar di seluruh negeri, membentuk dasar dari sekolah publik Amerika.

Menyadari ini sebagai kendaraan yang sempurna untuk rekayasa sosial, pendukung awal desain Prusia di Amerika (dinamai kembali sebagai Sistem sekolah publik Amerika) berusaha untuk memanfaatkan itu dalam rangka membentuk kembali masyarakat. Tanpa malu-malu menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap masyarakat umum, para pendidik ini tampak diam-diam merusak kebebasan individu dan pilihan melalui pemanfaatan pendidikan.

Dalam kata-kata dari Rockefeller Dewan Pendidikan Umum (1906) “Dalam mimpi kita. . . orang menyerahkan diri dengan sesempurna kepatuhan dalam cetakan tangan kita”.

Kata-kata yang mengerikan dikumandangkan oleh William Torrey Harris, US Komisaris Pendidikan (1889-1906):
“Idealnya sembilan puluh sembilan siswa dari seratus adalah automata (mesin), mereka berhati-hati untuk berjalan dalam jalur yang ditentukan, mereka berhati-hati untuk mengikuti kebiasaan yang ditentukan. Ini bukan kecelakaan tetapi hasil pendidikan yang cukup besar, yang didefinisikan secara ilmiah, sebagai keterlibatan dari individu”.

Sementara Prusia berusaha untuk mencabut kebebasan individu untuk kebaikan Mahkota Kerajaan, di Amerika Serikat kebaikan masyarakat menjadi altar di mana kebebasan pribadi itu harus dikorbankan. Seperti dijelaskan oleh Kliebard (2004) dalam account bersejarah dari perjuangan untuk Kurikulum Amerika:

Sosial Efisiensi menjadi lebih dari buah bibir di dunia pendidikan, melainkan menjadi misi mendesak. . . Untuk melampaui apa yang seseorang harus tahu dalam rangka untuk melakukan. . . Sebagai seorang pekerja industri dll hanya pemborosan. Utilitas sosial menjadi yang tertinggi kriteria yang bertentangan dengan nilai-nilai studi sekolah diukur.

Tidak pelak lagi, sekolah menjadi sekedar pembelajaran atau pengembangan intelektual. Untuk mengoptimalkan masyarakat, pertumbuhan individu itu harus menyerah untuk kebaikan yang lebih besar. Di bawah kebijakan baru yang agresif ini, sekolah adalah untuk menjadi perpanjangan dari-pabrik perakitan, secara sistematis siswa dikondisikan untuk kehidupan masa depan mereka sebagai pekerja dalam mesin industri.

Selain itu, sebagaimana di Prusia, kurangnya kebebasan dan inisiatif yang diperluas mencakup guru juga. Di sini sama juga, alasannya yaitu untuk kepentingan sosial-efisiensi bahwa pengorbanan ini dibuat. Seperti dijelaskan oleh pendiri manajemen ilmiah Frederick Winslow Taylor (1911):

Akan terlihat bahwa hasil yang bermanfaat telah bergantung terutama pada
(1) substitusi dari sains kepada hak individu pekerja,
(2) pemilihan ilmiah dan pengembangan pekerja, setelah setiap orang telah mempelajari, diajarkan, dan terlatih, dan dapat dikatakan bereksperimen dengannya, bukannya mengijinkan pekerja untuk memilih sendiri dan berkembang secara serampangan, dan (3) kerjasama intim manajemen dengan pekerja, sehingga mereka bersama-sama melakukan pekerjaan sesuai dengan hukum ilmiah yang telah dikembangkan, alih-alih meninggalkan solusi dari setiap masalah dalam tangan pekerja individu.

Disesuaikan dengan pendidikan dan fanatik efisiensi sosial, seperti Franklin Bobbitt dan Ellwood Cubberley (Pinar, 2008), manajemen ilmiah menjadi gaya manajemenyang disukai di sekolah nasional. Seperti rekan-rekan mereka di pabrik-pabrik, guru dilucuti kekuasaan dari “hak individu” dan membiarkannya untuk bekerja dalam batas-batas yang ketat dari kurikulum “ilmiah”.

3. Mempertuhankan Kecerdasan dan Berorientasi Kerja

Didukung oleh raksasa bisnis yang kuat dari awal abad 20, sosial-efisiensi cepat diasumsikan sebagai posisi menonjol di antara pendidik terkemuka waktu itu (Ravitch,
2001). Selain itu, model sosial-efisiensi disederhanakan, sekolah berorientasi kerja diberikan dukungan tambahan dengan bidang baru psikologi pendidikan.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh Charles Teori evolusi Darwin, psikolog seperti Sir Francis Galton (1869) mengabadikan pengertian bahwa kecerdasan diwariskan. Dengan asumsi intelijen menjadi sifat genetik yang ditransfer, mereka berpendapat bahwa anak-anak dari orang tua miskin, imigran, atau minoritas yang tidak dapat dididik (Oakes & Lipton, 2007).

Pemikiran tersebut kemudian diperpanjang oleh psikolog terkemuka lainnya seperti HH
Goddard (1914), yang berjalan lebih jauh untuk mengusulkan sterilisasi massal untuk “unsur-unsur yang lebih rendah” dari masyarakat. Ini trinitas yang tidak kudus – psikolog, siswa terdidik, teori sosial, yang semuanya berpendapat bahwa seorang siswa yang berpendidikan itu yang tidak dalam kepentingan masyarakat dan pemimpin bisnis, itu adalah keserakahan untuk pekerja taat – ini diabadikan model Prusia ke abad ke 20.

Sejarah sistem sekolah publik Amerika menunjukkan fakta paling mengganggu; publik
sekolah disebut tidak gagal sama sekali. Mereka setia memproduksi hasil yang mereka rancang untuk siswa apatis lemah produksi dengan “semangat kemampuan dalam diri mereka” selamanya padam (Gatto, 2009;. Waronker et al, 2009).

Bahkan, sekolah umum telah berhasil melampaui harapan terbesar mereka para perancang. Meskipun kemajuan luar biasa dalam teknologi, hak asasi manusia, dan kesadaran sosial, sistem rekayasa di 1760 oleh Raja Fredrick Agung sesungguhnya lebih berhasil dalam meredam semangat kreatif para siswa, mendidik biasa-biasa saja, dan memastikan penduduk tunduk. Tertanam ke dalam jiwa kolektif kita, warisan dari terpusat dikontrol, kelas yang sangat “tertulis” berlanjut. Terjebak dalam model pendidikan yang secara eksplisit direkayasa untuk tujuan berkembang biak dan apatis, tidak mengherankan bahwa hasil siswa tetap suram.

4. Militerisme dalam Semua Jenjang Sosial

Gaya persekolahan Prusia yang sangat militeristik sebagaimana digambarkan di atas, menyebabkan perilaku militarianisme dalam semua hal, baik di ruang-ruang kelas, maupun ruang-ruang parlemen termasuk dalam pergaulan sosial dan di jalan-jalan.

Sistem sekolah Prusia sebenarnya digunakan untuk mendidik tentara. Karena sistem ini berdasarkan disiplin militer, tentu saja cara pendekatannya sangat berbeda dengan cara mendidik anak dilingkungan rumah. Dan karena tujuannya untuk menghasilkan tentara, maka sistem ini sudah dirancang sedemikian rupa untuk menggagalkan paling tidak 70 persen dari siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah ini. Mengapa demikian?

Bisa anda bayangkan bila ternyata ada seribu orang yang mengikuti pendidikan ini. Pada saat tamat sekolah tentu tidak mungkin 1000 orang ini akan jadi jenderal semua. Kalau semua jadi perwira tinggi atau menengah semua, lalu siapa yang akan bertempur dimedan perang? Tentu saja dibutuhkan tentara-tentara dengan pangkat rendah. Oleh karena itu, sistem sekolah ini dirancang untuk memberikan tes atau ujian. Mereka yang tidak berhasil mengerjakan tes tentu saja akan sulit untuk naik ke level yang lebih tinggi. Jadi, sistem ini memang dari awal sudah dirancang untuk menyaring atau menggagalkan muridnya.

Kudeta militer yang seringkali mengalahkan aspek demokrasi, sesungguhnya berasal dari sikap mental yang dididik secara masif dalam skala besar selama puluhan tahun yang terhunjam dalam benak penduduk di bumi, untuk saling mengalahkan dan menghilangkan. Bahwa siapapun sadar dan tahu, betapa akibat dan kesan dari pendidikan telah terhunjam kuat dalam benak setiap kita. Jadi tidak aneh bila banyak diantara kita sering juga berfikir tanpa sadar untuk “meniadakan” yang lain dalam perspektif efisiensi sosial dan permusuhan.

Lihatlah pembantaian, kudeta, perang saudara dstnya adalah akibat logis dari bentuk dan format pendidikan masyarakat yang dipraktekan secara luas yaitu model persekolahan Prussia, dengan inti efisiensi sosial tanpa memperdulikan aspek kemanusiaan dan aspek alam. Pihak-pihak yang terzhalimi bahkan pada akhirnya akan bertindak dan berbuat yang sama karena mereka adalah produk dari model pendidikan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *